This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Koi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Koi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

Pola Makan dan Pertumbuhan Koi

Nusantara Koi - Pola makan dan tentu saja pertumbuhan koi bergantung pada berbagai faktor, seperti temperatur air, kualitas air, kepadatan populasi serta latar belakang genetik. Koi lebih aktif makan pada temerature diatas 59 fahrenheit (15 celsius), sehingga koi yang secara sexual belum matang akan bertumbuh lebih cepat pada bulan2 musim panas ketika temperatur air lebih hangat. Ketika koi sudah dewasa, pertumbuhan mereka akan secara jelas melambat (orang melayu lebih suka menyebut menurun - tapi ini masalah semantik saja); pada ikan yang secara sexual telah matang, pakan yang mereka makan akan banyak digunakan untuk membentuk telur (betina) dan sperma (jantan) (secara insting-red) dipersiapkan untuk berkembang biak. Bagaimanapun, tidak seperti kebanyakan mahluk bertulang belakang lainnya, ikan berkembang terus sepanjang hidupnya dan koi termasuk mudah dibuat bereproduksi sehingga dapat melanjutkan pertumbuhannya karena mempunyai pola makan yang tinggi. ( campur tangan manusia koi mendapat suplai pakan yang cukup tinggi)

Siklus pertumbuhan yang cepat pada musim panas dan yang terhambat (melambat) saat musim dingin menimbulkan "garis pertumbuhan" pada sisik-sisik ikan (seperti terlihat pada garis pertumbuhan pada pohon) dan usia seekor koi dapat ditentukan dengan cara menghitung garis-garis ini. Para pemelihara koi, bagaimanapun menghangatkan air kolamnya disaat musim dingin dan terus memberi makan koi koi mereka sepanjang tahun. Jika koi terus menerus dikasih makan selama musim dingin, garis pertumbuhan tadi tentu saja tidak mudah teramati dan selanjutnya sulit menentukan berapa usia koi tersebut.

Kualitas air mempengaruhi laju pertumbuhan karena koi kehilangan selera makan dan mungkin saja berhenti atau tidak mau makan jika kondisi lingkungan mereka buruk. Kualitas air yang buruk juga dapat mempengaruhi metabolisme (proses yang terjadi dalam tubuh), sehingga menghambat pencernaan makanan

Kepadatan populasi dalam kolam menimbulkan efek yang sangat jelas terhadap laju pertumbuhan koi. Dalam kolam yang populasinya sedikit, koi menjadi secara sexual matang meskipun ukuran mereka relatif masih kecil dan sekali mereka secara sexual telah matang, pertumbuhan akan dihambat (saya tidak pake kata terhambat why..?). Walaupun koi dalam kolam yang relatif padat akan dewasa (secara sexual - red) pada ukuran yang lebih besar (50 - 60 cm), persaingan mendapatkan makanan akan menurunkan laju pertumbuhan, makanan akan menjadi seperti barang langka dan pertarungan mendapatkannya dapat menimbulkan stress pada beberapa koi. Anda harus menentukan sendiri tingkat kepadatan populasi yang optimum dalam kolam anda. Kenyataannya, hal ini menjadi paling penting bagi para petani (peternak-red) koi."

Latar belakang genetik mempengaruhi hingga ukuran berapa kira-kira koi akan bertumbuh; seperti anak anak manusia, anak seorang ayah yang berperawakan tinggi CENDERUNG akan tumbuh tinggi dan anak seorang ayah yang cendek cenderung pendek, hal yang sama berlaku juga pada ko.

Temperatur air memberi efek yang lebih besar dibandingkan faktor lain terhadap ikan. Ikan adalah bersifat ektothermis (berdarah dingin kata orang melayu - tapi bukan tukang bantai lho), - suhu tubuh mereka berfluktuasi sesuai dengan suhu lingkungannya (air), biasanya tetap sekitar 15 C lebih (di eropa kali yah..? di sini mungkin 25-28 celsius deh..). Bila temperatur turun, kemampuan koi mencerna dan assimilasi (mentransformasi secara reaksi kimia internal) makanan menurun. Pada bulan2 musim dingin (kapan yah ada musim dingin di Solo..?) dengan suhu lingkungan dibawah 15 C, diet yang baik untuk dikasih ke koi adalah jenis sereal sehingga koi dapat mencerna lebih cepat dan lebih mudah sehingga tidak berada dalam usus terlalu lama. Pakan high-protein berlama-lama dalam usus dapat menyebabkan berbagai masalah; bakteri pencernaan dalam usus ikan yang berperan merombak (struktur kimia protein tersebut) makanan yang kurang mampu dicerna, seperti serat sellulosa mungkin menjadi phatogenik (menimbulkan penyakit) jika makanan tersebut berlama-lama dalam usus. Bagaimanapun, koi membutuhkan protein tinggi untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh yang rusak dan akibat luka serta untuk reproduksinya. Dengan naiknya temperatur pada musim panas, koi akan mendapat keuntungan apabila diberi makanan high protein dengan kandungan protein dalam pakan (berdasarkan pakan ikan) sekitar 35 - 40 %.

sumber : 

Senin, 02 Februari 2015

Beda Koi Lokal dan Import



Nusantara Koi - Tentu tidak asing bagi kita istilah Koi Import dan Koi Lokal, dan sebagian besar dari kita berpendapat bahwa koi import memiliki kualitas lebih baik dari koi import dan pada saat ini banyak pula koi import yang beredar. Bagaimana caranya agar kita bisa membedakan koi ini import atau lokal ? Berikut Tips untuk membedakan atara koi lokal dan import :

KOI IMPORT :
  • Koi didatangkan dari Jepang.
  • Bodinya lebih memanjang dan warna putih pekat.
  • Matanya agak keluar dan besar.
  • Warnanya lebih tajam (koi pilihan / di Jepang penyeleksian koi benar2 ketat).
  • Harganya lebih mahal (karena biaya produksinya tinggi dan lewat bea cukai).
KOI LOKAL:
  • Koi hasil pemijahan sendiri dan sudah turunan kesekian dari koi import.
  • Bodinya agak membulat dan warna putih kurang pekat.
  • Matanya tidak besar dan wajar.
  • Warna ada yang tajam dengan seleksi yang ketat.
  • Harga lebih murah dari koi import (biaya produksi rendah dan tidak pakai cukai).
Catatan:
Koi Lokal banyak yang baik, tergantung proses reproduksi (pemilihan induk dan penyeleksian yang ketat).
Bahkan pedagang koi suka mengatakan "KOI IMPORT" padahal koi lokal yang mempunyai kualitas baik.
Sebetulnya semua ikan koi dari Jepang, cuma yang ada di Indonesia sudah turunan yang kesekian.
 
 

Rabu, 21 Januari 2015

Udang Rebon Sebagai Pakan Koi

Nusantara koi – Udang Rebon tentu sudah tidak asing mendengar nama itu ditelinga kita, udang ini sangat mudah diperoleh baik di pasar tradisional maupun di supermarket. Udang rebon memiliki kandungan gizi yang sangat baik untuk ikan koi kesayangan kita. Karena memiliki kandungan gizi yang tinggi dengan kadar protein lebih dari 50%, selain itu udang rebon juga memiliki kandungan karoten yang mampeningkatkan warna dari ikan koi kesayangan kita.

Muncul dibenak kita bagaimana cara kita agar udang rebon mau dimakan oleh koi kesayangan kita,. Berikut ada beberapa cara yang dapat digunakan agar koi kesayangan kita mau memakan udang rebon. 
  1. Puasakan ikan koi kesayangan kita terlebih dahulu selama beberapa hari dengan tujuan membuat koi menjadi lapar, setelah itu bisa kita berikan udang rebonnya 
  2. Udang rebon bisa kita haluskan dengan cara ditumbuk maupun di belender kemudian bisa kita campurkan dengan pasta
  3. Udang rebon bisa kita berikan dalam kondisi hidup-hidup, karena pada dasarnya ikan koi atau burayak koi suka akan udang rebon Soal cara pemberian udang rebon bisa disesuaikan dengan kondisi. 
 Selamat mencoba, semoga artikel ini dapat memberikan manfaat.

Senin, 19 Januari 2015

Hanako Koi Tertua di Dunia

Nusantara Koi - Koi legenda biasanya datang dari kontes besar All Japan Show. Tapi Hanako jauh dari pesona kecantikan koi, ia hanya Higoi dengan warna merah yang sebagian meluruh putih, dan bentuk badan yang biasa-biasa saja. Hanako dikenang sebagai koi tertua yang tercatat di muka bumi: 226 tahun.

Pemiliknya adalah Dr. Komei Koshihara, presiden sebuah sekolah khusus perempuan, Women’s College di Nagoya. Ia tidak begitu dikenal pada mulanya. Sampai suatu hari di bulan Mei 1966 ia diwawancarai wartawan Radio NHK. Radio Jepang ini sebenarnya hendak menanyai Koshihara tentang sesuatu yang sungguh-sungguh disukainya. Jawabannya: “Saya senang ikan koi. Saya punya karper merah yang hidup di kolam rumah saya di Gifu. Namanya Hanako,” kata Koshihara.

Yang mengejutkan adalah ia menyebut usia Hanako saat ia diwawancarai: 215 tahun! Artinya, koi ini lahir ketika negara Amerika Serikat belum terbentuk, di era Jepang masih dalam kekuasaan Shogun Tokugawa.
Koshihara bercerita bahwa Hanako yang berkelamin betina sangat jinak dan sungguh bersahabat. Bahkan jika ia memanggil namanya, “Hanako! Hanako!” ikan ini akan mendekat untuk dibelai. Sesekali Hanako diangkatnya keluar kolam, ditaruh dalam wadah untuk melihat lebih dekat lagi. Koshihara bahkan punya puisi untuk Hanako:

There lives in our pond Hanako, a carp
Longer than two hundred years and still.
Still brightly aflame is Hanako, the red carp
Put a swimming long ago in Horeki by our forefather.
A bright day after rain, a killifish crosses the way
Of the red carp coming toward me at my call.
Hanako, Dear, thou eatest feed from my hand
Then fondlingly suckest thou my empty fingers.
The aged carp, knowing all the family history of ours,
Deep under the limpid water has gone.

 
Ia bukan juara kontes, bukan pula koi pemula. Tapi dunia koi menempatkannya dalam barisan koi yang tak terlupakan.
Ia mendapatkan koi itu dari neneknya. Sang nenek meninggal di tahun 1958 di usia 93 tahun. Nenek Koshihara pernah bercerita, Hanako sudah ada semenjak ia lahir. Dan sang nenek pun mendapatkan ikan ini dari mertuanya – kakek buyut Koshihara -- dengan pesan: “Ikan ini sudah ada di keluarga kita sejak dulu. Rawat dia baik-baik.” 

Tidak heran jika, Koshihara sungguh menyayangi Hanako. Karena warnanya merah tua, Koshihara menamai Higoi ini dengan Hanako (merah padam). Bersama lima koi lainnya ia Koshihara merawat Hanako dengan telaten di kolamnya di Gifu, kaki pegunungan Ontake, Provinsi Mino, Jepang.

Lalu bagaimana Koshihara sampai berkesimpulan mengenai tahun kelahiran Hanako? Menurut pengakuan Koshihara sendiri, hitungannya berdasarkan lingkar tahunan di sisik koi yang bisa dihitung di bawah mikroskop -- sebagaimana pohon memiliki lingkar tahunan pada penampang batangnya.

Sebagai pimpinan sebuah perguruan tinggi, Koshihara dengan mudah memanfaatkan laboratorium sekolahnya. Maka suatu hari, Koshihara mencabut dua sisik Hanoko dengan pinset (ia bercerita tentang proses mencabut ini dengan suara sedih), lalu dibawanya ke Prof. Masayoshi Hiro, peneliti Laboratory of Domestic Science, Nagoya Women's College. Butuh dua bulan proses menghitung usia Hanoko, Masayoshi mengambil foto setiap nano permukaan sisiknya. Hitungannya pada saat itu: usia Hanoko 215 tahun! Nah, dengan metode yang sama, Koshihara juga mengetahui usia lima ikan koinya yang lain.

Setua-tuanya, Hanako hanyalah makhluk hidup yang fana. Koi sepanjang 70 cm itu ditemukan mati pada pagi hari 17 Juli 1977. Jika benar hitungan Profesor Hiro, Hanako mati di usia 226 tahun. Beratnya 7.5 kg. Berkat Hanako, sampai sekarang koi disebut sebagai binatang panjang umur.

Kendati begitu, tidak sedikit orang yang meragukan cara menghitung usia koi seperti ini, termasuk Peter Waddington, penulis Koi Kichi dari Inggris yang terkenal itu. Ada yang mengatakan, penampakan lingkar tahunan di sisik koi bisa dipakai sampai umur tertentu saja, tapi tidak sampai ratusan. Soalnya, lingkar tahunan itu bisa saja tidak akurat karena pengaruh cuaca, pertumbuhan tak normal dan lain-lain.

Benar tidaknya perkiraan usia Hanoko, ia pasti sudah sangat tua pada saat ditemukan mati. Lebih dari itu, Hanoko telah mendapat tempat sendiri di hati para penggemar koi di dunia. 

Penulis : Tyo Arungtasik
sumber : Koi-s.org

Minggu, 19 Oktober 2014

Nusantara Koi

Test Posting